Bisakah Tinder Membangun Kembali Kepercayaan Setelah Merintis Kiamat Kencan?

Tinder sedang melakukan perombakan besar-besaran dengan memperkenalkan sejumlah fitur baru—termasuk alat yang didukung AI dan pencocokan sosial—dalam upaya untuk menghidupkan kembali reputasi dan keterlibatan penggunanya. Aplikasi tersebut, yang pernah menjadi raja kencan online yang tak terbantahkan, kini menghadapi skeptisisme dari pengguna yang merasa aplikasi tersebut berkontribusi pada budaya kencan yang dangkal dan seringkali beracun.

Naik Turunnya Swiping

Tinder merevolusi kencan pada tahun 2012 dengan antarmuka berbasis gesekan yang sederhana, dan dengan cepat menjadi kekuatan dominan di pasar AS pada tahun 2016 dengan 50 juta pengguna dan pangsa pasar 25%. Namun, inovasi ini harus dibayar mahal. Data mulai memperlakukan aplikasi seperti permainan, dengan gesekan tanpa akhir dan koneksi dangkal. Seperti yang dikatakan Vanity Fair dengan terkenal, ini menandai “Fajar Kiamat Kencan”. Pada akhir tahun 2023, langganan berbayar telah turun sebesar 8%, yang menandakan meningkatnya ketidakpuasan pengguna.

Identitas Baru Di Bawah Rascoff

Di bawah kepemimpinan CEO baru Spencer Rascoff, Tinder mengubah fokusnya dari sekadar jodoh menjadi membina hubungan yang tulus. Tolok ukur baru perusahaan ini memprioritaskan kepuasan pengguna dibandingkan jumlah gesekan sederhana. “Hanya mendapatkan jodoh bukanlah tujuan,” kata Rascoff dalam sebuah acara media baru-baru ini, sambil menekankan bahwa “orang-orang mendambakan koneksi.”

Strategi ini mencakup desain ulang profil dan peluncuran beberapa fitur penting, termasuk:

  • Tanggal Ganda: Memungkinkan pengguna memasangkan profil dengan teman untuk gesekan kolaboratif, sebuah fitur yang ironisnya pernah dilarang karena melanggar pedoman komunitas.
  • Mode Astrologi: Mencocokkan pengguna berdasarkan kompatibilitas zodiak.
  • Kimia: Alat AI yang menganalisis data rol kamera untuk menilai minat dan kepribadian pengguna (meskipun Tinder mengklaim data ini tidak disimpan).

AI sebagai Pedang Bermata Dua

Tinder banyak berinvestasi pada AI, dengan harapan AI akan berinovasi dan membangun kembali kepercayaan pengguna. Aplikasi “Apakah Anda Yakin?” dan “Apakah Ini Mengganggu Anda?” fitur-fiturnya kini memanfaatkan AI untuk mendeteksi bahasa yang berpotensi berbahaya, mengaburkan pesan-pesan yang menyinggung hingga penerima mengetuk untuk mengungkapkannya. Namun, mendefinisikan “bahasa yang berbahaya” masih bersifat subyektif, dan kelompok yang terpinggirkan sering kali terkena dampak paling besar dari filter tersebut.

Kobe Mehki, seorang penyanyi-penulis lagu trans, melaporkan pertanyaan identitas dan hiperseksualisasi yang terus-menerus di aplikasi. Hal ini menyoroti masalah inti: meskipun AI bertujuan untuk memoderasi konten, AI berjuang dengan nuansa dan dapat memperburuk bias yang ada.

Kepala kepercayaan dan keamanan Tinder, Yoel Roth, mengklaim bahwa AI sedang dilatih untuk memahami niat, membedakan antara bahasa yang lucu dan kasar. Perusahaan juga menyatakan bahwa LLM-nya dilatih tentang interaksi dunia nyata untuk mempertimbangkan konteks pesan yang lebih luas.

Skeptisisme Masih Ada

Meskipun terdapat perubahan-perubahan ini, banyak orang yang masih belum yakin. Beberapa orang merasa aplikasi ini telah menjadi “ritual penghinaan”, di mana pengguna mencari keintiman tanpa komitmen atau terlibat karena kebiasaan tanpa minat yang tulus. Yang lain, seperti Bobby Fitzgerald, telah kembali ke aplikasi hanya dan mendapati aplikasi itu tidak berubah. “Sulit untuk mengetahui apakah ada orang yang benar-benar berusaha untuk bertemu dengan orang lain,” katanya sebelum memutuskan untuk berhenti menggunakan aplikasi kencan.

Tinder bertaruh bahwa AI dapat memperbaiki masalah yang ditimbulkannya, namun pertanyaannya tetap ada: dapatkah sebuah aplikasi yang pernah melambangkan kedangkalan benar-benar memberikan koneksi yang bermakna di era ketidakpercayaan? Investasi perusahaan sebesar $125 juta dalam hal kepercayaan dan keamanan, termasuk verifikasi wajah wajib, dapat membantu memerangi akun palsu (yang menyumbang 98% dari moderasi konten), namun masalah budaya yang mendasarinya masih ada.

Pada akhirnya, kesuksesan Tinder akan bergantung pada apakah Tinder dapat meyakinkan pengguna yang kecewa bahwa Tinder bukan lagi bagian dari masalah—melainkan bagian dari solusi.