Kekacauan Bandara: Penerapan ICE Gagal Memperbaiki Penundaan Perjalanan Akibat Shutdown

Penutupan sebagian pemerintahan yang sedang berlangsung telah melumpuhkan bandara-bandara AS, dengan garis keamanan yang membentang selama berjam-jam dan agen-agen TSA menyatakan sakit atau langsung berhenti. Dalam upaya putus asa untuk mengurangi kekacauan, pemerintahan Trump mengerahkan agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) ke setidaknya 14 bandara—sebuah langkah yang telah memicu frustrasi dan skeptisisme di antara mereka yang bekerja di garis depan.

Dampak Penutupan terhadap Keamanan Bandara

Selama lebih dari sebulan, beberapa pegawai Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) telah bekerja tanpa bayaran, yang menyebabkan ketidakhadiran massal dan pengunduran diri di TSA. Bandara di kota-kota besar seperti Houston (George Bush Intercontinental) dan New York (LaGuardia) mengalami waktu tunggu melebihi tiga jam. Situasi ini diperparah dengan kesulitan keuangan yang dialami para pekerja TSA, sehingga beberapa pekerja terpaksa bergantung pada sumbangan bank makanan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Intervensi ICE yang Tidak Efektif

Agen ICE terlihat berpatroli di jalur keamanan, membagikan botol air, dan memberikan arahan—tugas yang tidak memerlukan pelatihan khusus. Karyawan TSA melaporkan bahwa agen tersebut tidak memiliki sertifikasi yang diperlukan untuk mempercepat prosedur keamanan secara efektif, dan banyak yang menduga penempatan tersebut lebih bersifat simbolis daripada fungsional. Salah satu pekerja maskapai penerbangan mengeluh bahwa “ICE ada di sini dan mereka tidak melakukan apa pun untuk membantu.”

Pelatihan dan Kekhawatiran Terhadap Penggantian di Masa Mendatang

Beberapa penumpang menyaksikan agen ICE dilatih untuk memeriksa kartu identitas dan boarding pass, yang merupakan fungsi dasar TSA. Meskipun Penjabat Kepala TSA Ha Nguyen McNeill mengklaim para agen tersebut dilatih untuk “fungsi penyaringan yang tidak terspesialisasi”, petugas keamanan berpendapat bahwa personel ICE tidak memiliki keterampilan layanan pelanggan dan kesadaran situasional yang diperlukan untuk penyaringan keamanan yang efektif.

Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa pemerintah federal berencana mengganti karyawan TSA dengan agen ICE atau kontraktor swasta. Kekhawatiran telah muncul mengenai Proyek 2025, sebuah cetak biru konservatif yang menganjurkan privatisasi penuh TSA.

Kerugian Manusia

Karyawan TSA berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup saat bekerja tanpa bayaran, dan beberapa di antaranya menghadapi penggusuran dan kerawanan pangan. Seorang petugas keamanan menggambarkan situasi ini sebagai “tidak terhormat atau stabil,” dan menyesali terkikisnya keamanan kerja di dinas federal. Terlepas dari klaim Presiden Trump mengenai perintah eksekutif yang akan datang untuk membayar pekerja TSA, tidak ada batas waktu yang pasti yang diberikan.

Sumber Daya yang Terbuang

Penempatan agen ICE dipandang oleh sebagian orang sebagai kesalahan alokasi sumber daya yang seharusnya bisa digunakan untuk membayar karyawan TSA. “Ini hanya membuang-buang uang yang bisa masuk ke rekening bank petugas,” kata Aaron Barker, presiden AFGE Local 554.

Gedung Putih bersikeras bahwa kehadiran ICE telah memperpendek jalur, namun petugas keamanan mengaitkan peningkatan tersebut dengan fluktuasi alami dalam lalu lintas udara dan tantangan tenaga kerja regional. Krisis ini menggarisbawahi disfungsi mendalam di jantung keamanan bandara AS, dimana pekerja yang dibayar rendah dan penempatan yang tidak efektif gagal mengatasi masalah sebenarnya: penutupan pemerintahan yang mengakibatkan layanan-layanan penting berada dalam kekacauan.

попередня статтяSoundboks Mix: Speaker Bluetooth yang Tangguh, Keras, dan Sangat Bagus
наступна статтяRencana Kontinjensi Trump: Bagaimana Invasi Darat Dapat Menyita Bahan Nuklir Iran