Keheningan yang tidak nyaman di kalangan eksekutif teknologi mengenai kebijakan Presiden Trump akhirnya terpecahkan, dipicu oleh penembakan fatal Alex Pretti, seorang perawat ICU berusia 37 tahun di Minneapolis, oleh penegak hukum federal hanya beberapa jam setelah beberapa CEO menghadiri pemutaran film dokumenter tentang Melania Trump di Gedung Putih. Insiden ini telah memaksa adanya perhitungan dalam industri teknologi bernilai triliunan dolar, di mana para pemimpin telah lama berada dalam situasi yang sulit antara kepentingan perusahaan dan tanggung jawab etis.
Dari Kejutan hingga Kapitulasi:
Pergeseran ini dimulai segera setelah Trump terpilih pada tahun 2016, dengan CEO teknologi seperti Mark Zuckerberg dan Tim Cook secara pribadi mengungkapkan keterkejutan dan ketidaksetujuannya. Namun, seiring berjalannya waktu, strategi tersebut berkembang menjadi sanjungan mewah dan konsesi strategis untuk menghindari dampak buruk peraturan dan tarif. Jeff Bezos, yang pernah dipuji sebagai pahlawan sipil karena mengakuisisi The Washington Post*, diduga mengarahkan publikasi tersebut ke arah narasi pro-Trump. Bahkan tokoh-tokoh seperti Sergey Brin, yang pernah mendukung reformasi imigrasi, kini terlihat sejalan dengan kebijakan yang bertentangan dengan cita-cita mereka di masa lalu.
Harga Keheningan:
Konsekuensi dari penyerahan ini menjadi jelas setelah kematian Pretti. Gubernur Minnesota Tim Walz menggambarkan situasi ini sebagai “debat moral”, yang menyoroti semakin terputusnya hubungan antara pragmatisme perusahaan dan kemarahan publik. Sementara beberapa eksekutif, seperti Sam Altman dari OpenAI, mengeluarkan pernyataan hangat yang mengakui masalah ini, yang lain, termasuk Satya Nadella, Sundar Pichai, dan Mark Zuckerberg, tetap diam.
Memecahkan Cetakan:
Presiden antropis Daniela Amodei muncul sebagai pengecualian yang jarang terjadi, ia secara terbuka mengutuk peristiwa di Minnesota dan menegaskan kembali pentingnya kebebasan sipil dan kesusilaan manusia. Demikian pula, 60 perusahaan yang berbasis di Minnesota, termasuk 3M dan Target, mengeluarkan surat bersama yang menyerukan deeskalasi, yang menunjukkan sikap kolektif yang dihindari oleh perusahaan teknologi besar.
Dilema Tim Cook:
Bahkan Tim Cook, yang sudah lama dikenal karena sikapnya yang penuh perhitungan, membocorkan memo internal yang menyatakan “patah hati” atas kejadian tersebut dan mengaku telah berbagi “pandangannya” dengan presiden. Namun, insiden tersebut menimbulkan pertanyaan yang tidak menyenangkan mengenai keputusannya sebelumnya untuk menghadiri pemutaran film dokumenter Melania Trump di hari yang sama dengan pembunuhan Pretti.
Titik Balik?
Penembakan di Minneapolis telah menghancurkan ilusi bahwa keselarasan perusahaan dengan pemerintahan yang kontroversial dapat dipertahankan tanpa kompromi moral. Insiden ini mungkin menjadi momen penting, yang memaksa para pemimpin teknologi untuk menghadapi implikasi etis dari keputusan mereka dan menilai kembali konsekuensi jangka panjang karena memprioritaskan keuntungan jangka pendek dibandingkan nilai-nilai fundamental.
Masa depan masih belum pasti, namun satu hal yang jelas: era keterlibatan diam-diam akan segera berakhir. Tekanan dari karyawan, masyarakat, dan beban hati nurani mereka sendiri pada akhirnya dapat memaksa para CEO teknologi untuk memilih antara keuntungan dan prinsip.














